Bisik-bisik Keras

Bisik-bisik Keras

"BUNG, Anda kan selalu ikuti berita di media. Mohon tanya: siapa media pertama yang menulis soal tembak-menembak polisi itu?"

Itulah pertanyaannya saya pada beberapa orang pimpinan media. Tidak satu pun ada yang bisa menjawab.

Padahal saya sudah siap dengan pertanyaan berikutnya: "Berita pertama di media itu muncul sebelum atau sesudah konferensi pers resmi Mabes Polri?"

Padahal itu pertanyaan tulus saya sebagai orang yang merasa ketinggalan berita. Saya ingin memberi penghargaan kepada media pertama itu. Kok hebat banget.

Dari penelusuran saya, ternyata Ny Sambo sebenarnya sudah melapor ke polisi. Ke Polres Jakarta selatan.

Itu tanggal 9 Juli 2022. Berarti hanya satu hari setelah tembak-menembak.

Mengapa Ny Sambo sendiri yang lapor? Bukan suaminyi? Atau menyuruh anak buah?

Ini menyangkut ketentuan pelaporan. Untuk jenis laporan yang berkaitan dengan seks tidak boleh diwakilkan. Ini kan laporan masalah Ny Sambo merasa menjadi korban pelecehan seksual. Dia harus lapor sendiri secara pribadi. Soal apakah dia datang ke Polres atau orang Polres yang datang ke rumahnyi itu soal lain.

Mengapa laporan pelecehan seksual dilakukan setelah yang dilaporkan meninggal?

Itu suka-suka yang melapor.

Dengan adanya laporan itu seharusnya media yang ''ngepos'' di Polres Jakarta Selatan langsung tahu. Pengaduan seperti itu harus dibuka.

Kelihatannya wartawan memang mulai tahu. Tapi belum mau menulis. Bisa saja karena belum berhasil mendapat konfirmasi. Atau sengaja diminta menunggu keterangan resmi.

Maka mau tidak mau akan ada keterangan resmi.

Itulah sebabnya Polri melakukan konferensi pers tanggal 11 Juli 2022.

Begitu banyak pertanyaan yang  tidak terjawab dari konferensi pers itu. Begitu banyak kejanggalan di alur ceritanya.

Tapi setidaknya wartawan sudah mulai bisa menulis. Wartawan juga mulai punya pijakan untuk melakukan reportase. CNN Indonesia dan Detik mengirim wartawan ke Duren 3. Yakni ke rumah Irjen Pol Ferdy Sambo. Mereka wawancara dengan orang-orang di situ.

Lalu datanglah tiga orang petugas. Mereka minta HP dua wartawan itu. Dibuka. Isinya dihapus. Yakni yang berkaitan dengan wawancara soal tembak-menembak.

Saya pun bertanya kepada bos pemilik dua media itu. Saya ingin mewawancarai wartawan yang langsung terjun ke lapangan. "Namanya jangan dibuka dulu. Kasihan mereka," kata bos di dua perusahaan media grup CT Corp. Saya memakluminya.

Sang bos sudah ke Mabes Polri: mengadukan perlakuan pada dua wartawannya itu. Polri menanggapinya dengan baik. Akan diselesaikan.

Walhasil upaya merahasiakan peristiwa besar ini sebenarnya berhasil. Awalnya. Tidak ada media yang bisa mengklaim ''kamilah yang pertama mengungkap''.

Saya ingat di zaman Orde Baru. Saat itu sulit sekali untuk bisa menjadi pertamax seperti itu. Wartawan sebenarnya selalu tahu secara dini peristiwa besar. Tapi takut menuliskannya. Tunggu keterangan resmi saja. Kadang ada. Kadang tidak.

Wartawan yang lebih dulu tahu biasanya hanya mampu menceritakannya kepada sesama wartawan, setelah mereka balik ke kantor. Maka kantin di kantor media itu asyik sekali. Wartawan yang pulang dari ''pos'' masing-masing bercerita peristiwa apa saja yang ia dapat. Sebatas diceritakan. Tidak bisa ditulis.

Yang dimaksud ''pos'' adalah tempat tugas si wartawan. Ada wartawan yang ''ngepos'' di istana, di Mabes Polri, di Polda, di Polres, di pelabuhan, di kementerian keuangan dan seterusnya. Di situlah mereka ''berkantor''. Setiap hari. Mereka tahu apa pun yang ada di ''pos'' masing-masing. Termasuk sisi gosip-gosipnya. Bahkan media seperti PosKota sampai punya wartawan yang ''ngepos'' di Polsek-Polsek.

Karena itu media perlu punya wartawan banyak sekali. Mahal.

Media online tidak mau punya banyak wartawan. Penghasilan online tidak sebesar penghasilan koran di masa jaya.

Di zaman sekarang, ternyata cara merahasiakan peristiwa sensitif masih sama. Termasuk soal tembak-menembak polisi itu. Sampai tiga hari kemudian pun belum ada wartawan yang tahu.

Medsos juga masih bungkam.

Hebat sekali. Kalau itu di zaman Orde Baru tidak ada yang heran. Ini terjadi di zaman medsos.

"Mungkin karena kejadian itu di satu rumah yang berada di kompleks perumahan yang tertutup," kilah seorang wartawan.

Itulah sebabnya berita tembak-menembak itu baru diketahui justru dari konferensi pers. Resmi. Di Mabes Polri. Tanggal 11 Juli 2022. Sudah tiga hari setelah peristiwa.

TV One termasuk yang pertama menyiarkan konferensi pers itu. Detik.com juga.

Pertanyaannya: kalau sudah berhasil ''menyembunyikannya'' selama tiga hari mengapa dibuka lewat konferensi pers?

Kemungkinan pertama, sudah berkembang bisik-bisik di lingkungan terbatas di Polri. Irjen Pol Sambo pasti sudah melapor ke atasan mengenai apa yang terjadi, versi dirinya.

Kita tidak tahu kapan ''lapor diri'' itu dilakukan? Sang atasan pasti melakukan koordinasi dengan staf. Sikap harus ditentukan. Sejak itu mulailah bisik-bisik beredar. Kian hari kian luas. Termasuk yang sudah dibumbui.

Kemungkinan kedua, keluarga korban juga memberitahu keluarga dekat tentang kematian Brigadir Joshua. Juga kian luas. Berikut bumbu-bumbu penyedapnya.

Tukang bumbunya bisa siapa saja: oknum di media, oknum di keluarga korban, oknum di instansi kepolisian. Bahkan bisa saja dari orang yang ingin menjatuhkan seseorang.

Wartawan tertolong oleh bisik-bisik-keras di medsos itu. Wartawan punya alasan untuk melakukan konfirmasi ke sumber yang kompeten. Atau mengecek ke lapangan.

Jelas dalam kasus tembak-menembak itu wartawan mengalami hambatan. Dihalangi. HP diperiksa. Isi dihapus.

Media sudah mengadu.

Tiga hari kemudian giliran istri pemilik rumah mengadu ke Dewan Pers. Lewat pengacaranya. Dia menggugat pers. Media dianggap kurang empati kepada sang istri.

Mungkin yang dia maksud adalah media medsos. Yang belakangan memang seru sekali. Foto-foto polwan cantik ikut diunggah. Lengkap dengan nama dan pangkatnyi. Juga kisah-kisahnyi. Liar sekali. Tidak mungkin media mainstream berbuat seperti itu.

Lalu muncul juga wajah wanita lebih berumur yang tidak normal.

Sebuah media medsos lantas menulis. Tulisan yang ada di medsos dijadikan fakta untuk tulisan di medsos. 'Ada netizen mengatakan.....'. Itu jadi fakta sebagai dasar menulis.

Itulah yang disebut fakta model baru. Di dunia media masa kini. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Freeport JIIPE

rid kc

Saya suka kalau tulisan Pak DI ini mengungkap kemajuan negara ini. Jadi ada harapan (hope) bagi warga +62 untuk selalu optimis terkait kemajuan negara di tengah kebangkrutan beberapa negara gegara ekonomi. Kalau boleh minta pak DI nulis aja kemajuan ekonomi Indonesia biar warga Indonesia optimis terkait keberlangsungan negara ini yakin tidak akan resesi

 

bagus aryo sutikno

Boss Dahlan di tulisan ini kok ndak ada nylekit2nya..? Opo goro2 harga cave naik. Sesekali mak Nylekit dong Boss ke pemerintah. Omong2 tentang nylekit, siapa yg bilang kalo freeport itu tambang emas..?! Sejak era PSPB, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa sewaktu SD dulu, freeport itu tambang tembaga. Dahh 50th eksis, baru nyadar kalo freeport itu tambang emas. Beruntunglah kaum yg sadar, pasti mereka dikasih transferan oleh freeport. Ditansferi biar tahu diri. Negeri yg keren. Dahh githu aja, cuma opini. May diteruskan kuwatir ada abang siomay bawa HT. Siomay 1 siomay 1, dikondisikan.

 

achmad subhan

Tertarik dengan kata : Lithium, di awal artikel. Mungkin masa depan nantinya tidak lagi Li tapi sodium Na yg banyak di laut. Sy sudah memulai membuat material elektroda baterai Na ini. Jika ini tercapai maka otomatis bahan baku baterai seluruhnya ada di dalam negeri : Na, Ni (nikel), manganese (Mn), Al ( Aluminum), Ti, Fe dan logam tanah jarang. Teknologi Sodium baterai bisa menjadi pengganti Litium baterai.

 

alasroban

Kemaren-kemaren kayakanya ada komentar yang merindukan "Manufacturing hope". Dan hari ini di kabulkan. Ide manufacturing hope terbit senin pagi keten tiada terkira. Agar orang-orang ikut bersemangat menyambut awal hari kerja.

 

Pakdhe joyo Kertomas

Kalo ada berita yg bikin hope gini seneng. Berarti masih ada matahari yg terbit. Ora mung tulisan isine sunset terus. Seakan2 negri iki meh ambruk. Cuman utk perusahaan tambang apakah kita sdh menghitung cost lingkungan. Sudahkah laba yg kita peroleh bisa menutupi rusaknya lingkungan. Bila surplus maka positiflah proyek ini. Bila buntung maka sebenarnya proyek ini sebenarnya yo rugi. Ingat bumi, air dan udara bukan warisan moyang kita. Tapi milik cucu negri ini.

 

Jimmy Marta

Walau di buku pelajaran sd disebut sebagai tambang tembaga. Nyatanya di grasberg itu tambang emas raksasa. Terbesar ketiga dunia. Saya malas jika menyebut ini ada yg menipu atau kita yg tertipu. Dah kita sebut saja dibuku itu salah tulis.. Bertahun tahun pemerintah mendorong adanya smelter di indonesia. Berpuluh tahun pula tanah dan air kita dibawa mentah2. Pun dipaksa dg uu yg memerintah. Agar kita dapat nilai tambah. Biar terlambat daripada tidak sama sekali. Sekarang ada proyek mega. Ada harapan besar dari tambang raksasa.

 

Muin TV

Kok BI mau bangun gedung di sana. Apa BI mau melaksanakan UU No. 19 tahun 1946. Bahwa sepuluh rupiah uang Republik indonesia sama dengan emas murni seberat 5 gram. Wuiiihh,,,, hebat tenan. Pegadaian pun perlu bangun gedung di sini. Biar nanti beli emas 1 ton, gak perlu jauh-jauh. Berat diongkos.

 

reza fauzi

Mungkin belum banyak yang tahu kalo smelter freeport di jiipe bukan smelter tembaga pertama yg dibangun oleh freeport. Sudah ada sebelumnya PT Smelting yang mulai dibangun tahun 1996 sampai 1998. Lokasinya juga di gresik tidak jauh dari jiipe. Mulai berproduksi tahun 1999. PT Smelting dibangun dengan kerjasama Mitsubishi Material Corporation. Terakhir Menko Airlangga meresmikan groundbreaking perluasan pada bulan Februari 2022. Kapasitas konsentrat akan dinaikan 30% dari 1 juta menjadi 1,3 juta ton.

 

Agus Suryono

UKURANNYA TON..!! Di pasar dan di jalan Blauran, ada puluhan toko emas. Kalau jual atau beli emas di sana, ukurannya adalah gram. Tapi emas yang akan dihasilkan smelter di Gresik ini, ukurannya adalah Ton..!! Yaitu 30 ton setahun. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah untuk tembaganya, yaitu 600 ribu ton..!! Pantas dulu kota lokasi Freeport lebih dikenal sebagai Tembaga Pura. Karena produk tembaganya jauh lebih banyak. Semoga suatu saat Abah bisa menulis tentang rupiah yang menetes ke APBN. Dari emas dan tembaga yang ber ton ton itu.. Manteman setuju..?

 

Multi Suk

Saya sih gak begitu bangga dengan pabrik hilirisasinya di Jawa. Gimana orang Papua gak merasa dianaktirikan. Bumi mereka dikeruk puluhan tahun giliran ada UU yang mewajibkan hilirisasinya di dalam negeri eeh malah di Gresik. Tapi ujungnya sih bukan urusan saya

 

Agus Dwi

Produk PT Freeport Indonesia yang diolah di Smelter berbentuk padat jadi dinamakan Konsentrat. Ada produk sampingan dari Smelter yang mengolah Konsentrat PT Freeport, yaitu Asam Sulfat yang menjadi bahan baku utama Pupuk .. Dengan berproduksinya Smelter baru di Gresik .. Produksi Pupuk Indonesia akan berlipat lipat ..

 

Johannes Kitono

Kalau cerita " Papa minta saham di Freeport masih berlanjut ", ulasan juragan disway hari ini pasti berbeda. Komposisi saham antara kawasan Industri dan kawasan Pelabuhan di Jiipe yang 60 : 40 dan 40 : 60 itu sudah sangat fair. Mencerminkan kesetaraan yang harmonis antara swasta dan pemerintah. Kawasan Industri dibawah Swasta dan Kawasan Pelabuhan Bumn Pelindolah penguasanya. Semoga kedepan tidak ada intervensi politisi yang ujung ujungnya minta saham lagi. Titip pesan buat Haryanto Adikusumo CEO AKR yang dulu week end sering berenang di MAC-WTC bersama keluarga. Cobalah mampir juga ke Kalbar dan bangun kawasan Industri di sana.Bauksit, emas dan kelapa sawit berlimpah menunggu jamahan teknologi dan investasj dari pihak swasta.

 

Juve Zhang

Sebaiknya BI di Jiipe bangun pabrik Koin Emas, nilai nya akan stabil, 10 juta cukup tipis misal se ukuran uang 1000 sekarang. jadi direktur nantinya digaji oleh satu atau beberapa koin sudah cukup. pak Menteri paling dua atau tiga koin. Praktis. Yg repot kuli seperti saya ,satu koin untuk beberapa bulan gaji saja.mau makan harus ke Pegadaian dulu.wkwkwkkwwk

 

Jimmy Marta

Kontrak karya (Contract of work). Antara fcx dg indonesia ditandatangani suharto tahun 1991. Berlaku untuk 30 tahun. Saat kontrak akan berakhir, baru ada yg menyadari. Bbrp pasal seperti menyandera indonesia. Terjadi mis interprestasi. Salahsatunya mengenai fcx berhak dp kontrak 20 th lagi. Ada lg di pasal lain perihal termination value. Tidak banyak pilihan bagi RI. Dg terpaksa kontrak diperbarui sampai 2021. ...lha kok bisa..? Saya jd ingat perjanjian saat kita2 berurusan lembaga finance untuk kreditan itu. Tanpa baca rinci, tanpa penjelasan main hantam tandatangan. Bila akhirnya rakyat banyak yg terjebak, gk usah heran. Yg pintar yg punya uang memang hebat. Sekelas negara pun bisa terkelabui...

 

Johannes Kitono

Kalau Smelter dan JIIPE dibangun di Papua memang lebih efisien, irit ongkir bahan bakunya. Tapi kalau dilihat dari sisi tenaga kerja dan industri turunannya justru tidak feasible. Investor tentu lebih tertarik investasi di pulau Jawa. Dimana tenaga kerja berlimpah dan populasi penduduk yang besar merupakan potensi pasar raksasa. Pilihan lokasi suatu industri tentu saja sudah mempertimbangkan Raw Material dan Market oriented. Tinggal dihitung cost and benefitnya, mana yang lebih menguntungkan.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: