Kemiskinan Lahat, Salah Pandemi Covid-19...?

Kemiskinan Lahat, Salah Pandemi Covid-19...?

Rima Kurnia, Statistis Ahli Muda Satuan Kerja BPS Lahat-Foto : dok/lahatpos.co-

Oleh: Rima Kurnia

Penulis adalah Statistis Ahli Muda Satuan Kerja BPS Lahat

Laju pertumbuhan ekonomi di Bumi Seganti Setungguan dalam 5 tahun terakhir mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun 2020. 

Hal ini disebabkan wabah Covid-19, dampak kontraksinya ke berbagai sektor terlebih ekonomi sebagai lapangan usaha memberi pengaruh besar. 

Beruntung Kabupaten Lahat tidak mengalami kontraksi, namun perlambatan pada angka 0.36 persen. 34,4 persen PDRB Lahat berada pada Sektor Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian serta didukung  13, 4 persen Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan  menjadi sebab PDRB Lahat tidak mengalami kontraksi. 

Lahat daerah yang memiliki kekayaan alam yang berpotensi untuk dikelola, sehingga bisa menjadi modal untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup penduduknya, terlihat dari kontribusi PDRB Lahat yang berada pada urutan ke tujuh PDRB Sumatera Selatan yaitu sebesar 3,74 persen di 2020. 

Umum diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. 

Sedangkan tujuan yang paling penting dari suatu pembangunan adalah pengurangan tingkat kemiskinan yang dapat dicapai melalui pertumbuhan ekonomi dan melalui redistribusi pendapatan (Kakwani dan Son, 2003).

Ketika di 2021, angka kemiskinan Kabupaten Lahat mengalami kenaikan sebesar 2,94 persen. 

Angka kemiskinan ditentukan dari Garis Kemiskinan (GK) dimana penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. 

BPS mengukur angka kemiskinan berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021, dimana rentang waktu komponen konsumsi yang dihitung adalah selama setahun terakhir, Maret 2020 hingga Maret 2021. 

Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi dihitung sepanjang tahun berjalan, sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2020 lebih merepresentasikan hubungannya dengan angka kemiskinan Maret 2021.

Penentuan angka GK berkaitan dengan angka GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi. 

Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin selama maret 2020 - Maret 2021 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik, yang digambarkan oleh inflasi Provinsi Sumatera Selatan yang meningkat menjadi 1,82 persen pada tahun 2021 dari semula 1,53 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: