Peradaban Di Ujung Barat Lahat

Senin 12-09-2022,15:21 WIB
Editor : Dian

LAHATPOS.CO - Setelah menyeberangi jembatan gantung sepanjang sekitar 50 meter, jalanan langsung menanjak tajam sehingga dibutuhkan sepeda motor yang kuat. 

Pengendara yang telah teruji. 

Kalau tidak sepeda motor dapat mati dan mundur masuk ke Sungai Lintang. 

Hal inilah yang aku alami ketika hendak melihat langsung peninggalan megalitik yang disebut masyarakat sebagai Batu Langgar. 

Aku dibonceng sepeda motor oleh Wandra seorang penggiat wisata Desa Lawang Agung Lama Kecamatan Muara Payang, dan didampingi oleh Febri yang juga seorang penggiat wisata dari Desa Lawang Agung Lama. 

Kami bertiga menyusuri jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu kendaraan sepeda motor.

Bila berpapasan dengan sepeda motor ataupun orang, maka salah satu harus berhenti dan sedikit minggir. 

Belum lagi kami harus menghindari ranting-ranting pohon kopi yang tumbuh dengan lebatnya. 

Seorang penggiat wisata Imran Sumardi tetap berada di Desa Lawang Agung Lama mendampingi tim kami dari Lahat melihat kebun kopi, durian, tembakau, kebun sayur dan sumber mata air atau ayek ulu tulung yang juga menjadi daya tarik wisata desa selain air terjun Jernih dan air terjun Lawang Agung.


Gambar Air Terjun Lawang Agung Lama--

Dalam perjalanan menuju Batu Langgar. Selain harus menyeberangi jembatan gantung, juga menyusuri kebun kopi sebelum akhirnya tiba di kebun sayur dimana Batu Langgar berada. 

Jalan setapak sejak dari jembatan gantung hingga kebun sayur dimana Batu Langgar berada jalanan menanjak berupa jalan tanah.

Hanya sebagian kecil yang telah dicor beton. 

Jarak tempuh dari jalan lintas Pagar Alam – Pendopo menuju Batu Langgar sekitar 1,3 km atau perjalanan dengan sepeda motor sekitar 10 menit. 

Akan tetapi, walaupun jaraknya cukup dekat dari desa, Batu Langgar yang merupakan sebuah situs budaya peninggalan masa megalitik belum banyak dikenal luas baik oleh masyarakat Kabupaten Lahat maupun masyarakat Sumatera Selatan.

Kategori :