Akibat Karhutla, Udara di Lahat Mulai Tak Sehat
Akibat Karhutla, Udara di Lahat Mulai Tak Sehat-RERI ALFIAN-RERI ALFIAN
Lahat Pos, Lahat - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lahat, kini tak hanya soal api. Selain melahap lahan, asap dan partikel hasil pembakaran juga ikut memperburuk kualitas udara di Kabupaten Lahat.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (PKUA) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lahat, Senin (31/8/2026) pukul 11.00 WIB, ISPU parameter PM2.5 mencapai 119 dan berada pada kategori tidak sehat.
Kepala DLH Lahat Dodi Nasoha melalui Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Rosivel T Herwin, mengatakan, angka tersebut merupakan hasil pemantauan Stasiun PKUA yang berada di kantor DLH Lahat, dengan radius sekitar dua kilometer. Erwin membenarkan, karhutla jadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi udara, terlebih saat musim kemarau ketika suhu meningkat dan partikel hasil pembakaran menyebar ke udara.
“Karhutla sangat berpengaruh terhadap kualitas udara. PM2.5 ini merupakan partikel berukuran sangat kecil yang tak terlihat mata. Tanpa disadari, partikel tersebut dapat ikut terhirup dan masuk ke dalam tubuh,,” kata Rosivel, Senin (31/8/2026).
BACA JUGA:Cek Rutin dan Berkala Kodim 0405/Lahat Pastikan Kendaraan Dinas Layak Beroperasi
Sementara, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan DLH Lahat, Khairul Hakim mengakui, angka 119 tersebut baru menggambarkan kondisi sekitar Kota Lahat. Bukan menggambarkan kondisi udara di wilayah lain, termasuk kawasan Merapi Area. Karena itu, agar bisa menjangkaunya, pihaknya juga telah lakukan pemantauan kualitas udara menggunakan metode pasif sampler.
"Sudah ada 20 titik pemantauan pasif sampler yang kita lakukan. Tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Lahat, Kikim, Kota Agung dan Merapi. Sampel tersebut dipasang selama 14 hari dan saat ini hasilnya masih dianalisis di laboratorium terakreditasi," terang Khairul Hakim.
Khairul Hakim mengingatkan, masyarakat tidak menganggap remeh peningkatan partikulat udara. Sebab, ketika kebakaran terus terjadi, bukan hanya hutan dan lahan yang jadi korban. Udara yang setiap hari dihirup masyarakat juga ikut tercemar.
"Karhutla sangat berpengaruh terhadap kualitas udara. Kondisi kemarau yang membuat suhu meningkat, ditambah tersebarnya partikel hasil pembakaran lahan, otomatis akan memperburuk kondisi udara. Dengan kondisi ini, sebaiknya perbanyak minum air putih, dan gunakan masker jika ke luar rumah," sampai Khairul Hakim.***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: