Bukan Sekadar Benteng Tua, Ini Perpaduan Arsitektur Lokal dan Eropa di Surosowan Banten
wisata sejarah Benteng Surosowan--
LAHAT.CO - Keraton atau Benteng Surosowan di Banten Lama menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan perkembangan arsitektur pada masa Kesultanan Banten. Bangunannya tidak hanya berkaitan dengan fungsi tempat tinggal kerajaan, tetapi juga memiliki unsur pertahanan yang kuat.
Keraton Surosowan dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin. Kompleks tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan yang dikelilingi tembok dan memiliki sejumlah gerbang. Sumber kebudayaan mencatat luas kompleks sekitar tiga hektare dengan tembok yang membuatnya menyerupai benteng.
Unsur lokal terlihat dari penggunaan bahan dan pola bangunan yang berkembang di lingkungan Banten. Bata dan batu karang menjadi bagian dari struktur kompleks.
BACA JUGA:Rahasia Surosowan Terungkap, Peran Hendrik Cardeel dalam Membangun Kembali Keraton Banten
Tata ruang kawasan juga tidak dapat dipisahkan dari karakter kota Islam Banten yang menghubungkan keraton, masjid, alun-alun, pasar, dan jaringan jalan.
Di sisi lain, perkembangan Surosowan juga memperlihatkan pengaruh teknik pertahanan Eropa. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten mencatat adanya perubahan fungsi dinding dan penambahan unsur pertahanan pada fase pembangunan berikutnya. Perubahan tersebut dikaitkan dengan perkembangan Surosowan sebagai kompleks pertahanan.
Keterlibatan Hendrik Lucasz Cardeel atau Pangeran Wiraguna menjadi salah satu bagian penting dari cerita tersebut. Ia merupakan ahli bangunan berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam dan diketahui terlibat dalam pembangunan kembali Surosowan.
BACA JUGA:Gunung Agung Bali dan Letusan Besarnya, Dari Jejak Bencana hingga Pesona Alam yang Tetap Memikat
Pertemuan berbagai unsur tersebut membuat Surosowan memiliki karakter arsitektur yang menarik. Bangunan ini tidak dapat dilihat hanya sebagai produk satu budaya, karena perkembangannya berkaitan dengan kebutuhan lokal sekaligus hubungan Kesultanan Banten dengan dunia luar.
Kini, yang tersisa sebagian besar berupa dinding, fondasi, dan struktur bangunan. Namun, reruntuhan tersebut justru memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami bagaimana sebuah kompleks kerajaan pernah dirancang.
Surosowan menjadi contoh bahwa arsitektur bersejarah dapat menjadi catatan perjalanan politik, budaya, teknologi, dan hubungan antarwilayah. Karena itu, menjaga situs tersebut tetap penting agar generasi berikutnya dapat mempelajari sejarah Banten secara langsung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
