Tradisi Memandikan Meriam Beranak di Kobar, Ritual Adat yang Jadi Ikhtiar Memohon Hujan

Tradisi Memandikan Meriam Beranak di Kobar, Ritual Adat yang Jadi Ikhtiar Memohon Hujan

tradisi masyarakat Kalimantan Tengah--

LAHAT.CO - Masyarakat Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memiliki tradisi unik yang kembali dilakukan di tengah kemarau. Prosesi memandikan Meriam Beranak menjadi bagian dari ritual adat untuk memohon turunnya hujan.

Tradisi tersebut dilaksanakan di kawasan Cagar Budaya Astana Al Nursari, lokasi yang berkaitan dengan peninggalan Kesultanan Kotawaringin. Prosesi dilakukan ketika wilayah tersebut menghadapi kemarau panjang dan kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Dalam prosesi tersebut, sejumlah benda pusaka dikeluarkan dari Pa'agongan atau tempat penyimpanan pusaka. Tabuhan bagendang mengiringi rangkaian kegiatan, sementara beras putih dan kuning turut digunakan dalam prosesi adat.

BACA JUGA:Jangan Cuma Ikuti Tren! 10 Etika Penting yang Perlu Dipahami Turis Saat Liburan ke Jepang

Sebanyak 11 benda pusaka mengikuti kegiatan tersebut. Enam di antaranya merupakan Meriam Beranak yang terdiri atas satu meriam induk dan lima meriam kecil yang secara turun-temurun disebut sebagai anaknya.

Meriam kemudian dibawa ke lokasi pembasuhan. Proses memandikan dilakukan secara hati-hati menggunakan air langgir dan kasai untuk menjaga material logam kuno yang menjadi bagian dari benda pusaka tersebut.

Doa juga dipanjatkan selama prosesi. Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan benda bersejarah, tetapi merupakan bentuk ikhtiar adat sekaligus cara menjaga warisan budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

BACA JUGA:Menyusuri Pulau Onrust, Jejak Karantina dan Penjara yang Membuat Sejarah Kelam Jakarta Terasa Dekat

Tidak lama setelah prosesi pada September 2026, hujan memang dilaporkan turun di sejumlah wilayah Kotawaringin Lama. Namun, peristiwa tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengalaman dan keyakinan masyarakat, bukan sebagai bukti ilmiah bahwa ritual menyebabkan hujan.

Di sisi lain, tradisi tersebut menunjukkan hubungan antara masyarakat, benda pusaka, dan lingkungan. Ketika kemarau menimbulkan kekhawatiran terhadap kebakaran lahan, masyarakat tetap menjalankan tradisi sambil pemerintah dan petugas melakukan penanganan karhutla.

Meriam Beranak pun tidak hanya menjadi benda bersejarah. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kotawaringin Lama yang terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: