Lahatpos.co - Ponsel yang digadang-gadang sebagai pengganti iPhone buatan Amerika Serikat dan dikaitkan dengan mantan Presiden AS Donald Trump mendadak mengalami perubahan signifikan. Perubahan ini memicu perhatian publik, terutama karena sejak awal perangkat tersebut dipromosikan sebagai simbol kemandirian industri teknologi Amerika.
Awalnya, ponsel ini diklaim sebagai smartphone “Made in America” yang akan menjadi alternatif bagi produk-produk Apple. Narasi tersebut langsung menarik perhatian, mengingat selama ini industri smartphone global sangat bergantung pada rantai pasok dan manufaktur di Asia.
Spesifikasi dan Klaim yang Berubah
Dalam perkembangan terbaru, sejumlah klaim terkait ponsel tersebut mengalami penyesuaian. Mulai dari detail produksi, spesifikasi teknis, hingga narasi pemasaran yang tidak lagi menekankan sepenuhnya pada konsep “100 persen buatan Amerika”. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana keterlibatan industri dalam negeri dalam proses pembuatannya.
BACA JUGA:Perkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Komunitas, BRI Berdayakan Lebih dari 42 Ribu Klaster Usaha
Beberapa pengamat menilai bahwa perubahan tersebut mencerminkan tantangan nyata dalam memproduksi smartphone secara penuh di Amerika Serikat, terutama dari sisi biaya, ketersediaan komponen, dan skala produksi.
Tantangan Mewujudkan HP “Made in America”
Membuat smartphone sepenuhnya di Amerika bukan perkara mudah. Industri ini membutuhkan rantai pasok global, mulai dari chipset, layar, hingga komponen kamera yang selama ini diproduksi di berbagai negara. Ketergantungan tersebut membuat konsep HP “Made in America” sulit diwujudkan tanpa kompromi tertentu.
Hal inilah yang diduga menjadi alasan mengapa proyek HP pengganti iPhone tersebut akhirnya mengalami perubahan konsep dan pendekatan.
BACA JUGA:Wow! Ini 5 Rekomendasi HP Murah di Bawah Rp2 Juta dengan Performa Menarik di Tahun 2026
Respons Publik dan Pengamat Teknologi
Perubahan mendadak ini memicu beragam reaksi. Sebagian pihak menganggapnya sebagai langkah realistis, sementara lainnya menilai proyek tersebut terlalu ambisius sejak awal. Meski begitu, ide menghadirkan alternatif iPhone dengan identitas nasional tetap dianggap menarik, terutama di tengah isu kemandirian teknologi dan geopolitik global.
Masih Jauh dari Menyaingi iPhone
Meski membawa narasi besar, ponsel ini dinilai masih jauh untuk benar-benar menyaingi dominasi iPhone. Apple bukan hanya unggul dari sisi perangkat keras, tetapi juga ekosistem, perangkat lunak, dan loyalitas pengguna yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Perubahan yang terjadi pada HP pengganti iPhone “Made in America” ini menunjukkan bahwa membangun pesaing iPhone bukan hanya soal nasionalisme produk, tetapi juga kesiapan teknologi dan ekosistem secara menyeluruh.***